Jumat, 25 September 2015

Golongan yang tidak diangkat sholatnya

KHUTBAH JUM’AT

“Golongan yang tidak diangkat sholatnya”

Oleh : Fadhli Almajri, S.Pd.I



اَلْحَمْدُ للهِ الَّذِيْ خَلَقَ الْخَلْقَ وَقَدَّرَ الأَشْيَاءَ، وَاصْطَفَى مِنْ عِبَادِهِ الرُّسُلَ وَالأَنْبِيَاءَ، بِهِمْ نَتَأَسَّى وَنَقْتَدِي، وَبِهُدَاهُمْ نَهْتَدِي، أَحْمَدُهُ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى بِمَا هُوَ لَهُ أَهْلٌ مِنَ الحَمْدِ وَأُثْنِي عَلَيْهِ، وَأُومِنُ بِهِ وَأَتَوَكَّلُ عَلَيْهِ، مَنْ يَهْدِهِ اللهُ فَلاَ مُضِلَّ لَهُ وَمَنْ يُضْلِلْهُ فَلاَ هَادِيَ لَهُ، أَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ سَيِّدَنَا وَنَبِيَّنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ لاَ نَبِيَّ بَعْدَهُ، أَنْزَلَ عَلَيْهِ رَبُّهُ الْقُرْآنَ الْمُبِيْنَ, هُدًى وَنُوْرًا لِلْمُؤْمِنِيْنَ، وَجَعَلَ رِسَالَتَهُ رَحْمَةً لِلْعَالَمِيْنَ، اَللهُم صَل وَسَلمْ عَلَيْهِ وَعَلَى سَائِرِ الأَنْبِيَاءِ وَالْمُرْسَلِيْنَ, وَآلِ كُلٍّ وَالصَّحَابَةِ وَالتَّابِعِيْنَ لَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلَى يَوْمِ الدِّيْنِ. أَمَّا بَعْدُ, فَيَا عِبَادَ اللهِ أُوْصِيْكُمْ وَنَفْسِيْ بِتَقْوَى اللهِ وَطَاعَتِهِ لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُوْنَ

Kaum muslimin yang berbahagia……
Pernahkah kita sedikit berfikir, musibah yang terjadi selama ini disebabkan oleh diri kita sendiri yang tidak pernah ingat dengan ancaman Allah SWT. Musibah yang datang silih berganti merupakan teguran dan ujian yang Allah timpakan kepada kita semua, seperti halnya musibah yang terjadi pada saat ini yakni kekeringan yang berkepanjangan sehingga mengakibatkan kabut asap terjadi dimana-mana. Kemudian kita berfikir kekeringan dan kabut asap ini akan berakhir setelah kita melaksanakan Sholat Istisqo’, akan tetapi pikiran tersebut hanyalah sebuah angan-angan, ternyata sholat yang telah kita lakukan tidak sedikitpun membuahkan hasil yang kita inginkan dalam artian setelah melaksanakan sholat Istisqo’ hujan pun tidak turun-turun membasahi bumi ini. Pertanyaannya, mengapa sholat yang kita lakukan ini tidak diangkat dan diijabah oleh Allah SWT?

Jawabannya terdapat dalam sebuah Hadits yang diriwayatkan oleh Imam Ibnu Majah, bahwasanya Rasulullah SAW bersabda :
ثَلَاثَةٌ لَا تَرْتَفِعُ صَلَاتُهُمْ فَوْقَ رُءُوسِهِمْ شِبْرًا
“Ada tiga kelompok yang shalatnya tidak diangkat oleh Allah SWT sekalipun hanya sejengkal di atas kepalanya….. Siapakah mereka???


Yang pertama :
رَجُلٌ أَمَّ قَوْمًا وَهُمْ لَهُ كَارِهُونَ
Seorang pemimpin yang dibenci oleh kaumnya,


Salah satu penyebab mengapa seorang pemimpin dibenci oleh kaumnya adalah dikarenakan seorang pemimpin tidak amanah dalam memimpin. Menjadi Pemimpin memang tidak semudah mengatakannya, sebab ada tanggung jawab besar yang harus diembannya. Dalam islam, pertanggung jawaban seorang pemimpin bukan hanya kepada orang-orang yang menjadi tanggungannya tapi lebih jauh lagi ia harus mempertanggung jawabkan semua amanah dihadapan Allah SWT. Itulah mengapa dalam pandangan Islam, memilih pemimpin bukan atas dasar hubungan dekat, serta Islam juga melarang ummatnya memilih pemimpin yang bukan beragama Islam. Sebagaimana Firman Allah SWT:


يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لَا تَتَّخِذُوا الْيَهُودَ وَالنَّصَارَى أَوْلِيَاءَ بَعْضُهُمْ أَوْلِيَاءُ بَعْضٍ وَمَنْ يَتَوَلَّهُمْ مِنْكُمْ فَإِنَّهُ مِنْهُمْ إِنَّ اللَّهَ لَا يَهْدِي الْقَوْمَ الظَّالِمِينَ

“Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu mengambil orang-orang Yahudi dan Nasrani menjadi pemimpin-pemimpin(mu); sebahagian mereka adalah pemimpin bagi sebahagian yang lain. Barangsiapa diantara kamu mengambil mereka menjadi pemimpin, Maka Sesungguhnya orang itu Termasuk golongan mereka. Sesungguhnya Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang zhalim” (QS. Al-Maidah : 51)


Dalam Islam memilih pemimpin harus sesuai dengan keahliannya, sebab, jika seorang pemimpin itu tidak mempunyai bekal Ilmu dan pengalaman yang cukup untuk memimpin, maka kehancuran cepat atau lambat akan terjadi. Oleh karena itu janganlah kita merasa heran jika Allah SWT selalu menimpakan musibah kepada kita, diantara musibah yang terjadi sekarang ini adalah kemarau yang berkepanjangan, kabut asap ada dimana-mana, salah satu penyebabnya adalah :


رَجُلٌ أَمَّ قَوْمًا وَهُمْ لَهُ كَارِهُونَ


Pemimpin yang dibenci oleh kaumnya, dikarenakan pemimpinnya tidak memenuhi perintah Allah SWT dalam mengemban amanah yang berikan kepadanya.


Yang kedua :
وَامْرَأَةٌ بَاتَتْ وَزَوْجُهَا عَلَيْهَا سَاخِطٌ


Istri yang tidur sementara suaminya sedang marah kepadanya
Tujuan suatu pernikahan adalah untuk menciptakan kecenderungan (ketenangan), kasih sayang, dan cinta. Sebab seorang istri akan menjadi penyejuk mata, dan penenang di kala timbul problema. Namun, jika istri itu durhaka lagi membangkang kepada suaminya, maka alamat kehancuran ada didepan mata. Dia tidak lagi menjadi penyejuk hati, tapi menjadi musibah dan neraka bagi suaminya. Kita lihat dalam sejarah Tatkala Nabi Nuh berada di atas geladak kapal memperhatikan cuaca dan melihat-lihat orang-orang kafir dari kaumnya sedang bergelimpangan di atas permukaan air, tiba-tiba terlihatlah olehnya tubuh Istrinya. Nabi Nuh secara spontan, terdorong oleh suara hati kecilnya berteriak dengan sekuat suaranya memanggil istrinya, akan tetapi seruan itu hanya sia-sia, tidak dihiraukan oleh Istrinya. Maka pada saat itu pun Allah SWT menenggelamkan istrinya dikarenakan membangkang apa yang telah diserukan kepadanya. Hadits ini menerangkan betapa pentingnya taat kepada suami, sehingga Rasulullah SAW menekankan bahwa salah satu kelompok yang tidak diangkat sholatnya adalah seorang istri yang tidur sementara suaminya sedang marah kepadanya.



Kaum Muslimin Rahimakumullah..........
Yang ketiga :
وَأَخَوَانِ مُتَصَارِمَانِ


Dua saudara yg saling mendiamkan (memutuskan hubungan silaturrahmi)

Silaturahmi tidak sekadar bersentuhan tangan atau memohon maaf belaka. Akan tetapi ada sesuatu yang lebih hakiki dari itu semua, yaitu aspek mental dan keluasan hati. Kalau kita lihat dalam kehidupan kita saat ini, sudah berapa banyak orang yang memutuskan tali silaturrahmi, bermusuhan hanya karena perbedaan pendapat, perbedaan pemikiran, atau karena perbedaan warna baju. Bagaimana mungkin hidup kita akan tenang kalau di dalam hati masih tersimpan kebencian dan permusuhan. Perhatikan keluarga kita, kaum yang paling kecil di masyarakat. Bila di dalamnya tidak saling tegur sapa, saling menjauhi, maka rahmat Allah akan di jauhkan dari rumah tersebut. Silaturahmi adalah kunci terbukanya rahmat dan pertolongan Allah SWT. Dengan terhubungnya silaturahmi, maka ukhuwah Islamiyah akan terjalin dengan baik. Ini sangat penting. Sebab, bagaimana pun besarnya umat Islam, sama sekali tidak ada artinya, laksana buih di lautan yang mudah diombang-ambing oleh gelombang, bila di dalamnya tidak ada persatuan dan kerja sama untuk taat kepada Allah.
Demikianlah Khutbah yang singkat ini, mudah-mudahan kita selalu menyadari bahwa semua musibah yang diberikan kepada kita tak lain hanyalah cobaan ujian yang Allah berikan agar kita selalu menjalankan perintahnya dan menjauhi larangannya.

بَارَكَ الله لِيْ وَلَكُمْ فِي الْقُرْآنِ الْكَرِيْمِ، وَنَفَعَنِيْ وَإِيَّاكُمْ بِمَا فِيْهِ مِنَ الْآيَاتِ وَالذِّكْرِ الْحَكِيْمِ. أَقُوْلُ قَوْلِيْ هذا وَأَسْتَغْفِرُ اللهَ لِيْ وَلَكُمْ ولِسَائِرِ اْلمُسْلِمْينَ مِنْ كُلِّ ذَنْبٍ فَاسْتَغْفِرُوهُ إِنّهُ هُوَ الْغَفُورُ الرَّحِيْم
 


Khutbah Kedua :


اَلْحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِيْ كَانَ بِعِبَادِهِ خَبِيْرًا بَصِيْرًا، تَبَارَكَ الَّذِيْ جَعَلَ فِي السَّمَاءِ بُرُوْجًا وَجَعَلَ فِيْهَا سِرَاجًا وَقَمَرًا مُنِيْرًا. أَشْهَدُ اَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ وأَشْهَدُ اَنَّ مُحَمَّدًاعَبْدُهُ وُرَسُولُهُ الَّذِيْ بَعَثَهُ بِالْحَقِّ بَشِيْرًا وَنَذِيْرًا، وَدَاعِيَا إِلَى الْحَقِّ بِإِذْنِهِ وَسِرَاجًا مُنِيْرًا. اَللَّهُمَّ صَلِّ عَلَيْهِ آلِهِ وَصَحْبِهِ وَسَلِّمْ تَسْلِيْمًا كَثِيْرًا. أَمَّا بَعْدُ؛ فَيَا أَيُّهَا النَّاسُ, اِتَّقُوا اللهَ فِيْمَا أَمَرَ وَانْتَهُوْا عَمَّا نَهَاكُمْ. وَاعْلَمُوْا أَنَّ اللهَ أَمَرَكُمْ بِأَمْرٍ بَدَأَ فِيْهِ بِنَفْسِهِ وَثَـنَّى بِمَلآئِكَتِهِ بِقُدْسِهِ, وَقَالَ تَعَالَى إِنَّ اللهَ وَمَلاَئِكَتَهُ يُصَلُّوْنَ عَلَى النَّبِيِّ، يَاأَيُّهَا الَّذِيْنَ آمَنُوْا صَلُّوا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوْا تَسْلِيْمًا. اَللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ كَمَا صَلَّيْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ. وَبَارِكْ عَلَى مُحَمَّدٍّ كَمَا بَارَكْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ فِي الْعَالَمِيْنَ، إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ.
اَللَّهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ وَالْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ اْلأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَاْلأَمْوَاتِ، إِنَّكَ سَمِيْعٌ قَرِيْبٌ مُجِيْبُ الدَّعْوَاتِ. اَللَّهُمَّ إِنَّا نَسْأَلُكَ الْهُدَى وَالتُّقَى وَالْعَفَافَ وَالْغِنَى. اَللَّهُمَّ إِنَّا نَسْأَلُكَ الثَّبَاتَ فِي اْلأُمُوْرِ، وَنَسْأَلُكَ عَزِيْمَةَ الرُّشْدِ، وَنَسْأَلُكَ شُكْرَ نِعْمَتِكَ يَا أَرْحَمَ الرَّاحِمِيْنَ. اَللَّهُمَّ أَحْسِنْ عَاقِبَتَنَا فِي اْلأُمُوْرِكُلَّهَا وَأَجِرْنَا مِنْ خِزْيِ الدُّنْيَا وَعَذَابِ اْلآخِرَةِ. رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ. رَبَّنَا تَقَبَّلْ مِنَّا إِنَّكَ أَنْتَ السَّمِيْعُ الْعَلِيْمُ. وَتُبْ عَلَيْنَا إِنَّكَ أَنْتَ التَّوَّابُ الرَّحِيْمُ. عِبَادَ اللهِ، إِنَّ اللهَ يَأْمُرُ بِالْعَدْلِ وَاْلإِحْسَانِ وَإِيْتَاءِ ذِي الْقُرْبَى وَيَنْهَى عَنِ الْفَحْشَاءِ وَالْمُنْكَرِ وَالْبَغْيِ يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُوْنَ. فَاذْكُرُوا اللهَ الْعَظِيْمَ يَذْكُرْكُمْ، وَاسْأَلُوْهُ مِنْ فَضْلِهِ يُعْطِكُمْ، وَلَذِكْرُ اللهِ أَكْبَرُ

Tidak ada komentar:

Posting Komentar